Sabtu, 02 Mei 2015



 FATHUL MAKKAH DAN WAFATNYA NABI MUHAMMAD SAW


D
I
S
U
S
U
N

OLEH: HADI SUCIPTO
 DOSEN PENGAPU: USTAD FIRDAUS K.MA

SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH AL-QUR’AN AL-ITTIPAQIAH (STITTQI)
INDRALAYA OGAN ILIR SUMATERA SELATAN
2014-2015


KATA PENGANTAR
Alhamdulillah puji dan syukur atas ke hadirat Allah Swt yang telah memberikan karunianya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul : “Tokoh Ulama Nusantara 1: Hamzah Al-Fansuri, Syamsudin As-Sumantrani, Abdul Rauf As-Singkili.
Adapun tujuan penulis membuat makalah ini yaitu untuk memenuhi tugas mata kuliah Sejara sejarah pendidikan islam  yang dibimbing oleh dosen Ust.Firdaus Khafi M.A. Semoga makalah yang disusun oleh penulis dapat bermanfaat dan berguna bagi pembaca.
Demikian makalah ini dibuat kami menyadari di dalam penyusunan dan pembuatan makalah ini masih banyak kekurangan maka dari pada itu kritik dan saran sangat kami harapkan untuk mencapai kesempurnaan makalah ini agar lebih baik lagi, terima kasih.


DAFTAR ISI

BAB 1
            Kata pengantar.........................................................................................................i
            Daftar isi...................................................................................................................ii
BAB II
            Pembahasan .............................................................................................................1
a.  Pengertian pathul makkah.....................................................................................1
b.  Penybab terjadinya fathul makkah........................................................................2
            c.  keberankatan pasukan ..........................................................................................2
            d. Kisah wafatnya rosullah.........................................................................................4
            e. setelah wafatnya rosulullah....................................................................................4
BAB III
            Kesimpulan .............................................................................................................6
            Saran ........................................................................................................................6
             
DAFTAR FUSTAKA........................................................................................................

PEMBAHSAN
 BAB II
A.FATHUL MAKKAH
      makkah ( Pembebasan kota MakkahBakkah ) 20 Romadhan 8 Hijriyah..
Pada masa jahiliyyah kabilah Khuza’ah dan Kabilah Bakr saling bermusuhan, dengan adanya perjanjian Hudaibiyyah antara kaum Muslimin dgn Kaum kafir Quraisy, Kabilah Khuza’ah bergabung dengan kaum Muslimin, sedangkan Kabilah Bakr bergabung dengan Kaum Quraisy, sehingga masing _ masing dari kedua kabilah tersebut merasa aman dari gangguan pihak lain.Suatu ketika Kabilah Khuza’ah terlihat oleh Bani Bakr, kemudian, Kabilah Bakr membunuh sekitar 20 orang Bani Khuza’ah. Karena itu Bani Khuza’ah masuk ke Tanah Haram untuk menyelamatkan diri.Akan tetapi, Bani Bakr menyusul Bani khuza’ah dan membunuh sebagian mereka di Tanah Harom.Dengan adanya peristiwa tersebut batallah perjanjian Hudaibiyyah antara kedua belah pihak. Kemudian pergilah Amr bin Salim dari Bani Khuza’ah, Budail bin Warqo, dan sekelompok orang Khuza’ah untuk menemui Rosulullooh dan meminta perlindungan kepada Beliau atas perbuatan Bani Bakr kepada mereka.Rosululloohpun membela Bani khuza’ah dan menyerang mereka dan Sekutunya secara tiba – tiba.
Kaum Quraisy meyesali perbuatan mereka yang telah menodai isi perjanjian, 0leh karena itu, mereka mengutus Abu Sufyan menemui Rosulullooh guna memperbaikinya, tetapi Dia kembali dengan Tangan kosong.
Hasil penting dari peristiwa pembebasan Makkah
1. Rosulullooh bersama kaum Muslimin menghancurkan berhala di Ka’bah dan sekitarnya. Dengan demikian berakhirlah Peganisme di wilayah Jaziroh Arob.
2. Masuknya Quraisy ke dalam pangkuan Islam menjadikan Kabilah2 Arab diseluruh Jazirah Arob bisa bertemu Rosulullooh untuk masuk islam. Peristiwa inilah yang dilakukan Rosulullooh selama 2 thn: tahun 9 sampai 10 H. Banyak kabilah yang berdatangan kepada Rosulullooh untuk mengikrorkan keislaman mereka.
Pembagian pasukan
1. Pasukan Nabi
2. Pasukan Kholid bin al – Walid.
3. Pasukan Qois bin bin Sa’ad bin Ubadah
4. Pasukan Zubair bin al – Awam.
5. Pasukan Abu ubaidah bin al – jarroh.
Setelah kaum Muslimin menguasai seluruh jalur Makkah, Nabi dan kaum muslimin mengadakan apel besar diwilayah Gunung hind.Pada penaklukan makkah Rosulullooh menghancurkan berhala – berhala sekitar 360 berhala.

B .Sebab-sebab Terjadinya Fathu Mekkah
Perjanjian Hudaibiyyah membolehkan setiap kabilah Arab manapun untuk menggabungkan diri ke dalam barisan Nabi SAW, atau ke dalam barisan kaum kafir Quraisy. Bani Bakar mrmilih menggabungkan diri ke dalam barisan kaum kafir Quraisy, sementara Bani Khuza’ah memilih masuk ke dalam barisan Rasulullah SAW (Barisan Islam).
Fathu Mekkah terjadi karena pada tahun 8 Hijriah ini Bani Bakar melanggar perjanjian Hudaibiyyah dengan meminta bantuan kaum kafir Quraisy untuk menyerang Bani Khuza’ah. Akibatnya, terbunuhlah 20 orang Bani Khuza’ah. Mengetahui hal ini, Rasulullah SAW secara diam-diam melakukan persiapan untuk memerangi mereka. Akan tetapi rahasia ini dibocorkan oleh seseorang yang bernama Hatib bin Abu Baltaah Al-Badry, melalui surat rahasianya kepada kaum kafir Quraisy.
Setelah mengetahui pembocoran ini, Rasulullah memanggil Hatib bin Abu Baltaah, dan menanyakan mengapa ia berbuat demikian. Jawabnya,        
“Wahai Rasulullah, demi Allah, saya beriman kepada-Nya dan kepada Rasulullah. Tetapi di kalangan kaum Muslimin ini aku merupakan seseorang yang tidak mempunyai keluarga dan keturunan terhormat, padahal aku mempunyai putra dan sanak saudara di Mekkah (kaum kafir Quraisy). Hal ini kulakukan agar mereka itu menghormati dan menghargai keluargaku.” Rasulullah lalu mengampuni Hatib karena dia ikut dalam Perang Badar.
C. Rasulullah Berangkat ke Mekkah
Pada tanggal 10 Ramadhan berangkatlah Nabi dengan membawa 10.000 tentara menuju Mekkah. Di tengah perjalanan itu pula anggota pasukan bertambah, karena beberapa kelompok orang Arab menggabungkan diri. Sementara itu regu pengawal berhasil menawan Abu Sofyan dan dua orang kawannya, lalu ia masuk Islam.
Menjelang masuk ke Mekkah, ada seseorang yang bernama Abbas membisikkan kepada Nabi agar nanti memberikan sesuatu yang dapat membanggakan Abu Sofyan. Nabi mengatakan, “Siapa saja yang masuk rumah Abu Sofyan, maka dia aman.” Setelah sampai di Mekkah, diumumkanlah, siapa yang masuk ke rumahnya dan mengunci pintu, maka dia aman. Siapa yang masuk masjid (Ka’bah), maka dia aman. Dan siapa saja yang masuk rumah Abu Sofyan, maka dia aman.
Pasukan Islam memasuki kota Mekkah tanpa mendapat perlawanan yang berarti dari para penduduknya. Nabi terus menghancurkan patung-patung yang berjumlah tidak kurang dari 360 buah, di dalam dan di luar Ka’bah, lalu thawaf.Setelah melakukan shalat dua rakaat, berdirilah Nabi di pintu seraya mengatakan, “Wahai seluruh orang Quraisy, bagaimanakah tanggapanmu terhadap apa yang saya lakukan ini?”“Engkau telah melakukan sesuatu yang baik. Engkau adalah seorang yang mulia. Engkaulah saudara kami yang paling baik,” jawab mereka,“Pada hari ini saya nyatakan kepadamu, seperti yang pernah dinyatakan oleh Nabi Yusuf yang terdahulu. Tidak ada apa-apa lagi pada hari ini. Mudah-mudahan Allah mengampuni dosa-dosa yang telah kamu lakukan selama ini. Bubarlah kalian, karena kalian telah dibebaskan,” kata Nabi.
Demikianlah pidato Nabi pada hari penaklukan kota Mekkah. Tidak ada pertumpahan darah. Tidak ada penyiksaan dan pembunuhan seperti apa yang dilakukan kaum kafir Quraisy dulu. Nabi pun tidak membalas perlakuan kejam yang diterimanya dulu. Semuanya damai dan aman. Semua penduduknya menyatakan masuk Islam, baik pria maupun wanita. Kemudian pada waktu shalat Zhuhur hari itu, Rasulullah menyuruh Bilal adzan di atas Ka’bah dan menandakan keagungan Islam
Tahun kesebelas Hijrah, haji pertama Rasulullah dan kaum Muslimin tanpa ada seorang musyrik pun yang ikut didalamnya, Untuk pertama kalinya pula, lebih dari 10.000 orang berkumpul di Madinah dan sekitarnya, menyertai Nabi melakukan perjalanan ke Makkah, dan sekaligus inilah haji terakhir yang dilakukan oleh Rasulullah. Rombongan haji meninggalkan Madinah tanggal 25 Dzulqadah , Rasulullah disertai semua isterinya,menginap satu malam di Dzi Al-Hulaifah, kemudian melakukan Ihram sepanjang Subuh, dan mulai bergerak.
D.Kisah wafatnya rosulullah
Setelah berjuang selama 23tahun Rasulullah saw wafat dan sudah pasti Allah swt tidak akan menghantar nabi lagi, maka Rasulullah memerintahkan para sahabat r.anhum ketika Nabi Haji wada untuk berpencar keseluruh alam untuk sampaikan ini perkara Agama.Dikisahkan pagi itu, meski langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap. Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata memberikan petuah, "Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, sunnah dan Al Qur'an. Barang siapa mencintai sunnahku, berarti mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku

E. Setelah Kewafatan Rasulullah SAW
Kabar wafatnya Rasulullah SAW segera menyebar luas ke antero Madinah. Ummu Aiman mengirim utusan untuk menyusul pasukan yang dipimpin putranya, Usamah bin Zaid, mengabarkan kewafatan Nabi SAW, sekaligus meminta mereka segera kembali ke Madinah. Para sahabat segera berkumpul kembali di masjid Nabi SAW dalam keadaan kaget dan penuh sesal. Pada subuh hari itu mereka menyaksikan keadaan Nabi SAW yang tampak bugar, karena itu mereka tidak pernah menyangka beliau akan berpulang ke rahmatullah pada hari itu juga. Kalaulah mereka tahu, tentulah mereka tidak akan pernah meninggalkan beliau.
Reaksi para sahabat umumnya diliputi oleh kesedihan dan kepedihan hati yang sangat dalam, serta perasaan tidak percaya bahwa Nabi SAW telah wafat. Seolah-olah mereka hanya sedang mimpi saja. Aisyah sendiri, setelah melepaskan jenazah beliau dari pelukannya dan meletakkan di tempat tidur serta menutupinya dengan kain, ia menepuk-nepuk pipinya sendiri beberapa kali, seolah-olah meyakinkan kalau dirinya tidak sedang bermimpi. Tetapi ada juga yang berdiam diri seperti Utsman, atau menahan diri untuk berbicara seperti Ali, walau ia mengetahui secara pasti kalau beliau telah wafat. Seolah-olah mereka mengalami pukulan psikologis yang begitu dahsyat sehingga tidak bisa berkata dan berbuat apa-apa.
Reaksi yang paling ekstrim adalah Umar bin Khaththab, ia menolak kenyataan bahwa beliau telah berpulang ke rahmatullah. Dengan mengacungkan pedangnya, ia berkata, “Siapa yang mengatakan bahwa Muhammad telah meninggal, maka akan aku pukul dengan pedangku ini. Muhammad tidaklah mati, ia hanya sementara pergi sementara kepada Tuhannya, sebagaimana Musa bin Imran menghilang dari kaumnya selama 40 hari, kemudian ia kembali setelah orang-orang menyatakan kalau ia telah mati. Demi Allah, Rasulullah akan kembali sebagaimana halnya Musa kembali!!”
Abu Bakar yang sedang berada di Kabilah Bani Harits bin Kharijah di luar Kota Madinah, segera kembali ke masjid setelah memperoleh pemberitahuan bahwa Nabi SAW telah wafat. Begitu datang, ia langsung menerobos kerumunan massa tanpa berkata apapun dan masuk ke rumah Rasulullah SAW. Ia membuka kain penutup dan mencium wajah Nabi SAW yang mulia itu dengan tangisan tersedu-sedu. Di antara isak tangisnya, ia berkata, “Demi ayah bundaku, wahai Rasulullah, alangkah indahnya hidupmu, dan alangkah indahnya kewafatanmu. Demi Allah, sekali-kali tidak akan berkumpul dua kematian atas engkau. Kematian yang telah ditentukan Allah telah engkau temui, dan setelah itu tidak ada kematian lagi untukmu selama-lamanya!!”

Walau sebelumnya Nabi SAW telah menunjuk siapa-siapa yang nantinya akan mengurus jenazah beliau setelah kewafatan, tetapi pada hari senin itu mereka belum berbuat apa-apa. Kesedihan yang begitu dalam dan beban psikologis yang begitu mengguncang jiwa membuat mereka tidak cukup tegar untuk memandang dan merawat jenazah Nabi SAW. Apalagi sempat terjadi ‘tarik-ukur’ antara kaum Muhajirin dan Anshar, tentang siapa yang berhak menjadi khalifah (pengganti) Nabi SAW, sampai akhirnya mereka sepakat untuk memba’iat Abu Bakar.
Barulah pada hari selasa tanggal 13 Rabi’ul Awwal 11 H mereka siap untuk merawat jenazah Nabi SAW.
Kemudian Ali mulai memandikan jenazah Nabi SAW dengan dibantu Fadhl bin Abbas dan Usamah bin Zaid sesuai dengan wasiat Nabi SAW. Malaikat Jibril juga datang, tentunya tanpa diketahui oleh siapapun, dengan membawa wangi-wangian dari surga, termasuk wangi cendana. Riwayat lain menyebutkan, beberapa kerabat beliau ikut membantu memandikan, seperti Abbas, paman beliau, Qatsam bin Abbas, Syaqran, salah satu pembantu Rasulullah SAW dan Aus bin Khaily.
Setelah dimandikan, beliau dikafani dengan tiga lembar kain sesuai dengan wasiat beliau, pakaian yang beliau pakai itu hingga wafat, dan dua kain dari Yaman dan Mesir. Sahabat Abu Thalhah menggali lubang kubur di dalam rumah Aisyah tersebut, kemudian mereka menempatkan jenazah beliau di salah satu sisinya. Seperti wasiat Nabi SAW sebelumnya, mereka meninggalkan jenazah beliau sendirian beberapa waktu lamanya.
Setelah itu kelompok demi kelompok, dalam riwayat lain disebutkan masing-masing sepuluh orang, masuk ke rumah untuk menyalatkan beliau. Tidak ada yang menjadi imam, masing-masing shalat munfarid (sendirian), tidak berjamaah. Giliran pertama adalah para kerabat beliau, disusul kaum Muhajirin kemudian kaum Anshar dan baru kaum muslimin lainnya. Rombongan pertama adalah kaum lelaki, disusul kaum wanita, dan terakhir adalah kelompok anak-anak.
Semua itu berlangsung sepanjang hari selasa sehingga malam harinya (masuk hari Rabu). Setelah semua selesai menyalatkan beliau, Rasulullah SAW dimakamkan pada tengah malam pada malam Rabu tersebut.



BAB III
 PENUTUP
A.Saran
Penulis menyadari bahwa di dalam makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk ini demi pemahaman kita bersama, mari kita membaca dari buku-buku lain yang bisa menambah ilmu pengetahuan kita tentang sejarah islam. Penulis sangat mengharapkan kritik maupun saran yang sifatnya membangun penulis supaya bisa lebih baik lagi.

DAFTAR PUSTAK
Yatim, Badri, Sejarah peradaban Islam, Jakarta:Rajawali Pers, 2008
M.Mujid, the Indian muslim,:London: George Alen,1967
Musyarifah Sunanto, Sejarah Islam Klasik,:Jakarta, Kencana Prenada Media Group, 2003
Yatim, Badri, Sejarah peradaban Islam, Jakarta:Rajawali Pers, 2008
M.Mujid, the Indian muslim,:London: George Alen,1967
Musyarifah Sunanto, Sejarah Islam Klasik,:Jakarta, Kencana Prenada Media Group, 2003



                                                                                             










Tidak ada komentar:

Posting Komentar