PRINSIP-PRINSIP EVALUASI
PEMBELAJARAN
D
I
S
U
S
U
N
OLEH:
1.
HADI
SUCIPTO
2.
AHMAD
FIKRY
3.
ANDREAN
KUSWARA
4.
INDAH
WULANDARI
5.
FAKHRUL
MUKHLISIN
6.
KHOIRON
NASRUL KARIM
7.
KURNIAWANSYAH
8.
HARYATI
9.
INTAN
SAPUTRI
10.
DESSE
WULANDARI
RINSIP-PRINSIP EVALUASI DALAM PEMBELAJARAN
Evaluasi adalah suatu proses, yakni proses menentukan sampai
berapa jauh kemampuan yang dapat dicapai oleh siswa dalam proses belajar
mengajar. Kemampuan yang diharapkan tersebut sebelumnya sudah ditetapkan secara
operational. Selanjutnya juga ditetapkan patokan pengukuran hingga dapat
diperoleh penilaian (value judgement), Kare¬na itu dalam evaluasi diperlukan
prinsip-prinsip sebagai petunjuk agar dalam pelaksanaan evaluasi dapat lebih
efektif. Prinsip-prinsip itu antara lain:
a. Kepastian dan
kejelasan.
Dalam proses evaluasi maka kepastian dan kejelasan yang akan
dievaluasi menduduki urutan pertama. Evaluasi akan dapat dilaksanakan apabila
tujuan evaluasi tidak dirumuskan dulu secara jelas da¬lam. definisi yang
operational. Bila kita ingin mengevaaluasi kemajuan belajar siswa maka
pertama-tama kita identifikasi dan kita definisikan tujuan-tujuan instruksional
pengajaran dan barulah kita kembangkan alat evaluasinya. Dengan demikian
efektifitas alat evaluasi tergantung pada deskripsi yang jelas apa yang akan
kita evaluasi. Pada umumnya alat evaluasi dalam pendidikan terutama pengajaran
berupa test. Test ini mencerminkan karakteristik aspek yang akan di¬ukur. Kalau
kita akan mengevaluasi tingkat intelegensi siswa, maka komponen-komponen intelegensi
itu harus dirumuskan dengan jelas dan kemampuan belajar yang dicapai dirumuskan
dengan tepat selanjutnya dikembangkan test sebagai alat evaluasi. Dengan
demikian keberhasilan evaluasi lebih banyak ditentukan kepada kemampuan guru
(evaluator) dalam merumuskan/mendefinisikan dengan jelas aspek-aspek individual
ke dalam proses pendidikan.
b. Teknik evaluasi
teknik evaluasi yang dipilih sesuai dengan tujuan evaluasi.
Hendaklah diingat bahwa tidak ada teknik evaluasi yang cocok untuk semua
ke¬perluan dalam pendidikanl Tiap-tiap tujuan (pendidikan) yang ingin di¬capai
dikembangkan tekmk evaluasi tersendiri yang cocok dengan tuju¬an tersebut.
Kecocokan antara tujuan evaluasi dan teknik yang diguna¬kan perlu dijadikan
pertimbangan utama.
c. Komprehensif.
Evaluasi yang komprehensif memerlukan tehnik bervariasi. Tidak
adalah teknik evaluasi tunggal yang mampu mengukur tingkat kemampuan siswa
dalam belajar, meskipun hanya dalam satu pertemuan jam pelajar¬an. Sebab dalam
kenyataannya tiap-tiap teknik evaluasi mempunyai ke¬terbatasan-keterbatasan
tersendiri. Test obyektif misalnya akan mem¬berikan bukti obyektif tentang
tingkat kemampuan siswa. Tetapi hanya memberikan informasi sedikit dari siswa
tentang apakah ia benar-benar mengerti tentang materi tersee. but, apakah sudah
dapat mengembangkan ketrampilan berfikirnya, apakah akan dapat mengubah /
mengembang¬kan sikapnya apabila menghadapi situasi yang nyata dan sebagainya.
Lebih-lebih pada test subyektif yang penilaiannya lebih banyak tergan¬tung pada
subyektivitas evaluatornya.
Atas dasar prinsip inilah maka seyogyanya dalam proses
belajar-me¬ngajar, untuk mengukur kemampuan belajar siswa digunakan teknik
evaluasi yang bervariasi. Bob Houston seorang ahli evaluasi di Amerika Serikat
(Texas) menyarankan untuk mendapatkan hasil yang lebih I obyektif dalam
evaluasi, maka variasi teknik tidak hanya dikembangkan dalam bentuk pengukuran
kuantitas saja. Evaluasi harus didasarkan pula data kualitatif siswa yang
diperoleh dari observasi guru, Kepala Sekolah, catatan catatan harian dan sebagainya.
d. Kesadaran adanya
kesalahan pengukuran.
Evaluator harus menyadari keterbatasan dan kelemahan dalam
tek¬nik evaluasi yang digunakan. Atas dasar kesadaran ini, maka dituntut untuk
lebih hati-hati dalam kebijakan-kebijakan yang diambil setelah melaksanakan
evaluasi. Evaluator menyadari bahwa dalam pengukuran yang dilaksanakan, hanya
mengukur sebaglan (sampel) saja dari suatu kompleksitas yang seharusnya diukur,
lagi pula pengukuran dilakukan hanya pada saat tertentu saja. Maka dapat
terjadi salah satu aspek yang sifatnya menonjol yang dimi liki siswa tidak
termasuk dalam sampel pe¬ngukuran. Inilah yang disebut sampling error dalam
evaluasi.
Sumber kesalahan (error) yang lain terletak pada alat/instrument
yang diguriakan dalam proses evaluasi. Penyusunan alat evaluasi tidak mudah,
lebih-Iebih bila aspek yang diukur sifatnya komplek. Dalam skoring sebagai data
kuantitatif yang diharapkan dapat mencerminkan objektivitas, tidak luput dari
“error of measurement”. Test obyektif tidak luput dari guessing, main terka,
untung-untungan, sedangtest essai subyektivitas penilai masuk di dalamnya.
Karena itu dalam laporan hasil evaluasi, evaluator perlu melaporkan adanya
kesalahan pengukuran ini. Pengukuran dengan test, kesalahan pengukuran dapat
ditunjukkan dengan koefisien kesalahan pengukuran.
e. Evaluasi adalah
alat, bukan tujuan.
Evaluator menyadari sepenuhnya bahwa tiap-tiap teknik evaluasi
digunakan sesuai dengan tujuan evaluasi. Hasil evaluasi yang diperoleh tanpa
tujuan tertentu akan membuang waktu dan uang, bahkan merugi¬kan anak didik.
Maka dari itu yang perlu dirumuskan lebih dahulu ialah tujuan evaluasi, baru
dari tujuan ini dikembangkan teknik yang akan di¬gunakan dan selanjutnya
disusun test sebagai alat evaluasi. Jangan sam¬pai terbalik, sebab tanpa diketahui
tujuan evaluasi data-yang diperoleh akan sia-sia. Atas dasar pengertian
tersebut di atas maka kebijakan-kebi¬jakan pendidikan yang akan diambil
dirumuskan dulu dengan jelas sebelumnya dipilih prosedur evaluasi yang
digunakan dengan demikian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar