TAKSONOMI PEBMELAJARAN
D
I
S
U
S
U
N
OLEH KELOMPOK : II
1.
HADI SUCIPTO
2.
AHMAD
FIKRY
3.
ANDREAN
KUSWARA
4.
INDAH
WULANDARI
5.
FAKHRUL
MUKHLISIN
6.
KHOIRON
NASRUL KARIM
7.
KURNIAWANSYAH
8.
HARYATI
9.
INTAN
SAPUTRI
10. DESE WULANDARI
SEKOLAH TINNGI ILMU TARBIYAH AL-QUR’AN AL-ITTIFAQIYAH
INDRALAYA OGAN ILIR SUMATERA SELATAN
TAHUN AKADEMIK 2014-2015
TAKONOMI
PEMBELAJARAN
Pembelajaran
adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada
suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan
pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan
kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta
didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta
didik agar dapat belajar dengan baik. Proses pembelajaran dialami manusia
sepanjang hayat, serta berlaku dimana pun dan kapan pun. Selain itu,
pembelajaran pun dibagi menjadi beberapa klasifikasi, dimana setiap kelompok
tersebut memiliki tujuan pembelajaran yang berbeda. Klasifikasi pembelajaran
atau sering disebut sebagai taksonomi pembelajaran memiliki beberapa konsep
yang dikembangkan oleh para ahli. Diantaranya adalah, seorang tokoh pendidikan
Indonesia yaitu Ki Hajar Dewantara dan seorang psikolog bidang pendidikan yaitu
Benjamin S. Bloom.
PENGERTIAN
TAKSONOMI
Taksonomi
berasal dari bahasa Yunani tassein berarti untuk
mengklasifikasikan dan nomos yang berarti aturan. Taksonomi
berarti klasifikasi bertingkat dari sesuatu atau prinsip. Semua hal yang
bergerak, benda diam, tempat dan kejadian-kejadian sampai pada kemampuan
berfikir dapat diklasifikasikan menurut beberapa skema taksonomi.
TAKSONOMI
KI HAJAR DEWANTARA (Cipta-Rasa-Karsa)
Bagi
Ki Hajar Dewantara, para guru hendaknya menjadi pribadi yang bermutu dalam
kepribadian dan kerohanian, baru kemudian menyediakan diri untuk menjadi
pahlawan dan juga menyiapkan para peserta didik untuk menjadi pembela nusa dan
bangsa.Pendidikan yang humanis menekankan pentingnya pelestarian eksistensi
manusia, dalam arti membantu manusia lebih manusiawi, lebih berbudaya, sebagai
manusia yang utuh dan berkembang (menurut Ki Hajar Dewantara menyangkut daya
cipta (kognitif), daya rasa (afektif), dan daya karsa (psikomotorik).
Dalam
kehidupan manusia tidak bisa terlepas dari 3 hal yaitu Cipta, Rasa dan Karsa.
Cipta adalah kesadaran manusia untuk menyadari adanya hidup itu sendiri. Daya
cipta merupaka anugrah besar yang diberikan kepada Manusia. Dengan adanya unsur
Cipta, manusia bisa menyadari adanya Sang Pencipta. Adanya kita karena adanya
Sang Pencipta yang Abadi dialah Allah AR-Rahman AR-Rahim. Dengan Keberadaan-Nya
lah, kita diberi Anugrah untuk bisa merasakan, dan merasakan semua yang ada.
Rasa adalah mediator atau sarana kita mengenal Sang Maha Kekal atau yang selalu
ada tidak berawal dan berakhir. Dan semua Manusia tidak pernah lepas dari Rasa.
Karena adanya Rasa, timbulah keinginan apa yang disebut dalam bahasa jawa yaitu
Karsa. Maksud Karsa adalah dalam bentuk keinginan yang diaplikasikan. Banyak
orang tua jawa mengatakan ketika kita bisa menyelaraskan 3 komponen diatas,
kita akan bisa merasakan nikmatnya kehidupan. Kita bisa merasakan Kebesaran
Tuhan. Secara Fisik, kita bisa menempatkan unsur-unsur tersebut dalam tubuh
manusia. Untuk Cipta berada di Kepala manusia, Rasa di Dada Manusia, dan Karsa
terletak di perut manusia. Makanya tidak heran Hati biasa dikatakan di dada,
karena Rasa merupakan manifestasi dari Hati.
TAKSONOMI
BLOOM
Konsep
Taksonomi Bloom dikembangkan pada tahun 1956 oleh Benjamin S. Bloom, seorang
psikolog bidang pendidikan. Konsep ini mengklasifikasikan tujuan pembelajaran
dalam tiga ranah, yaitu Kognitif, Afektif dan Psikomotorik.
Dalam
hal ini, tujuan pendidikan dibagi menjadi beberapa domain (ranah) dan setiap
domain tersebut dibagi lagi ke dalam pembagian yang lebih rinci berdasarkan
tingkatannya. Tujuan pendidikan dibagi dalam tiga ranah, antara lain:
Ranah
Kognitif
Ranah
Kognitif adalah ranah yang mencakup kegiatan mental (otak), menekankan perilaku
pada aspek intelektual. Benjamin S. Bloom menggolongkan tingkatan pada ranah
kognitif dari pengetahuan sederhana sebagai tingkatan yang paling rendah ke
evaluasi yang lebih kompleks dan abstrak sebagai tingkatan yang paling tinggi.
1) Knowledge (Pengetahuan)
Didefinisikan
sebagai ingatan terhadap hal-hal yang telah dipelajari sebelumnya. Kemampuan
ini merupakan kemampuan awal meliputi kemampuan mengingat dan menghafal.
2) Conprehension (Pemahaman)
Didefinisikan
sebagai kemampuan untuk memahami materi atau bahan yang meliputi menerjemahkan,
menginterpretasikan dan menyimpulkan. Proses pemahaman terjadi karena adanya
kemampuan menjabarkan suatu materi ke materi lain.
3) Application (Penerapan)
Merupakan
kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari dan dipahami ke dalam
situasi yang nyata atau baru. Kemampuan ini mencakup penggunaan pengetahuan,
aturan, rumus, konsep, prinsip, hukum dan teori yang digunakan untuk memecahkan
suatu masalah.
4) Analysis (Analisis)
Merupakan
kemampuan untuk menguraikan materi ke dalam bagian-bagian yang lebih
terstruktur dan mudah dimengerti. Kemampuan menganalisis kaitan antar bagian,
serta mengenali antar bagian tersebut.
5) Syntesis (Sintesis)
Kemampuan
berfikir yang merupakan kebalikan proses berfikir analisis, sintesis merupakan
proses yang memadukan bagian-bagian atau unsur-unsur secara logis, sehingga
menjadi suatu pola yang terstruktur atau berpola baru.
6) Evaluation (Evaluasi)
Merupakan
kemampuan seseorang untuk membuat pertimbangan terhadap suatu situasi, nilai
atau ide, misalnya jika seseorang dihadapkan dengan beberapa pilihan maka ia
akan mampu memilih suatu pilihan yang paling baik.
Ranah
Afektif
Ranah
Afektif mulanya dikembangkan oleh David R. Krathwolhl dan kawan-kawan pada
tahun 1974 dalam buku berjudul Taxonomi of Education Objective : Afection
Domain. Ranah Afektif adalah ranah yang berkaitan dengan sikap dan nilai. Ranah
ini oleh Krathwolhl dan kawan-kawan dibagi lebih rinci ke dalam lima jenjang,
antara lain:
1) Receiving (Penerimaan)
Merupakan
kepekaan seseorang dalam menerima rangsangan (stimulus) dari luar yang datang
kepada dirinya dalam bentuk masalah, situasi, gejala dan lain-lain.
2) Responding (Menanggapi)
Mengandung
arti adanya partisipasi yang aktif. Dengan kata lain, Responding adalah
kemampuan seseorang untuk mengikut sertakan dirinya secara aktif dalam fenomena
tertentu dan membuat reaksi terhadap fenomena tersebut dengan suatu cara.
3) Valuing (Penghargaan Terhadap Nilai)
Artinya
memberikan penghargaan terhadap suatu kejadian atau obyek, menerima nilai-nilai
setia kepada nilai-nilai dan memegang teguh nilai-nilai. Dalam kaitan proses
belajar mengajar, peserta didik di sini tidak hanya mau menerima nilai yang
diajarkan, tetapi mereka telah mampu menilai konsep atau fenomena, yaitu baik
dan buruk.
4) Organization (Pengorganisasian)
Artinya
menghubungkan nilai-nilai yang telah dipahami, mengintegrasikan nilai-nilai
tersebut ke dalam hidupnya
5) Characterization (Karakteristik)
Di
sisni nilai telah tertanam secara konsisten pada sistemnya dan telah
mempengaruhi emosinya. Ini merupakan tingkatan tertinggi, karena sikap batin peserta
didik telah benar-benar bijaksana, ia telah memiliki philosophy of life yang
mapan. Jadi pada jenjang ini peserta didik telah memiliki sistem nilai yang
mengontrol tingkah lakunya untuk satu waktu yang cukup lama, sehingga membentuk
karakteristik “pola hidup”
Ranah
Psikomotorik
Ranah
Psikomotorik adalah ranah yang berkaitan dengan keterampilan atau kemampuan
bertindak setelah seseorang menerima pengalaman tertentu. Pada ranah ini berisi
perilaku-perilaku yang menekankan aspek motorik seperti tulisan tangan,
mengetik, berenang dan mengoperasikan mesin. Rincian pada ranah ini tidak
dibuat oleh Bloom, tetapi oleh ahli lain berdasarkan ranah yang dibuat Bloom,
antara lain:
1) Imitation (Peniruan)
2) Manipulation (Penggunaan)
3) Precision (Ketepatan)
4) Articulation (Perangkaian)
5) Naturalisation (Naturalisasi)
PENUTUP
Taksonomi
pada dasarnya merupakan usaha pengelompokan yang disusun berdasarkan ciri-ciri
bidang tertentu. Taksonomi pembelajaran adalah usaha pengelompokan tujuan pembelajaran
atau pendidikan yang menurut Benjamin S. Bloom dibagi menjadi tiga ranah yaitu
Kognitif, Afektif dan Psikomotorik. Dimana masing-masing ranah tersebut dibagi
lagi ke dalam bagian yang lebih rinci.
REPRENSI:
1.http://www.TaksonomiPembelajaran~rokhim.net.htm.
Di download tanggal 1 April 2015 pukul 10:24 WIB
2.http://www.BelajarBarengAbqoTAKSONOMIPEMBELAJARAN.htm.
3.Di
download tanggal 1 April 2015 pukul 07:26 WIB.
4.http://www.JURNALISMUSLIMAHpersamaandanperbedaantaksonomibloomdengankihajardewantara.htm.
Di download tanggal 2 april 2015 pukul 12:20 WIB
5.Rahyubi,
Heri. 2012. Teori-Teori Belajar dan Aplikasi Pembelajaran Motorik. Jawa Barat:
Nusa media.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar